Didalam tulisan ini sengaja penulis membuat judul yang sangat kontroversi karena ternyata Bank mempunyai dua sisi yang sangat berbeda. Dalam satu sisi bank yang dimaksud penulis adalah bank Konvensional, secara tidak langsung menjadi alat perantara bagi pemiliki kelebihan modal dan orang-orang yang kekurangan modal. Tetapi disisi yang lain menjadi awal sumber bencana bagi suatu bangsa. Bagaimana tidak, depresi dan resesi yang terjadi di Negara-negara berkembang awal mulanya akibat daripada mekanisme bank yang kemudian menuntut pihak pemerintah untuk menutupi semua beban kewajiban yang telah dimiliki oleh bank. Depresi disini adalah penurunan tajam pertumbuhan tingkat ekonomi. Dan resesi adalah penurunan siklus bisnis dimana terdapat tingkat pengangguran yang tinggi. Data Amerika menyebutkan bahwa tahun 1929 merupakan tahun depresi terbesar yang pernah dialami oleh Negara Amerika dimana tingkat pengangguran mencapai 25 persen. Dan data lain menyebutkan dalam kurun waktu 40 tahun yaitu tahun 1960 sampai 2000 telah terjadi resesi 3 kali dalam ekonomi Amerika. Resesi pertama terjadi pada tahun 1974-1975 dengan tingkat pengangguran 9 persen. Sedangkan Resesi kedua terjadi pada tahun 1981 sampai 1982 dengan tingkat pengangguran mencapai angka 10 persen. Dan Resesi ketiga terjadi pada tahun 1990 sampai 1991 dengan tingkat pengangguran sebesar 8 persen. Maka dari data resesi dan depresi yang telah terjadi bertahun-tahun, selamanya peristiwa tersebut akan terulang berkali-kali jika bank-bank yang beroperasi memakai system bunga. Bahkan terakhir tahun 2008 kemarin Amerika terkena krisis terbesar meskipun tidak seperti tahun 30-an. Karena banyak perusahaan yang memecat karyawannya untuk mengurangi beban perusahaan. Dan itu erat kali berhubungan dengan bank. Tingkat Liability dan tingkat asset suatu bank selamanya tidak akan seimbang. Karena Liability bank bersifat fixed dan asset bersifat fleksible. Bunga yang dijanjikan oleh bank kepada nasabah penabung bersifat tetap. Dan bunga yang dijanjikan berasal dari bunga kredit. Sehingga sebuah bank selalu menjaga daripada dana yang didapat dan dana yang akan disalurkan kemasyarakat. Namun disisi yang lain yang paling unik sebenarnya adalah bank tidak punya uang sama sekali untuk disalurkan kepada masyarakat. Dan dana yang dipinjamkan oleh bank kepada masyarakat adalah dana yang berasal dari simpanan nasabah penabung. Pihak bank harus mengembalikan dana tersebut tiap waktu jika nasabah menginginkannya. Maka disana terdapat istilah Rush yang selalu menghantui bank dan akan menjadikan bank gulung tikar jika hal itu terjadi, yaitu pengambilan uang simpanan secara besar-besaran. Mengapa rush bisa membuat bank gulung tikar karena dana yang disimpan oleh nasabah telah disalurkan kepada kreditur sehingga bank tidak mempunyai dana yang cukup apabila debitur mengambil dananya. Jika asset bank habis, apa kemudian yang dilakukan olehnya, tentu saja ia akan menaikkan tingkat suku bunga. Dengan begitu bank akan mendapatkan dana. Sebenarnya bank bukannya menuai angin malah menuai badai. Karena pada waktu assetnya habis bukannya ia menambah asset malahan manambah kewajiban dan jika itu semakin menumpuk, beban kewajibannya lama kelamaan akan membengkak, dan pada akhirnya bank tersebut akan melapor kepada pihak yang berwajib karena dirinya tidak sanggup lagi menutupi beban kewajibannya. Maka disini kita bisa mengambil kesimpulan bahwasannya jika bank mengalami kegagalan dalam menutupi kewajibannya secara tidak langsung akan mempengaruhi tingkat produksi suatu perusahaan. Karena dana yang berputar berhenti secara tiba-tiba sehingga terjadi goncangan tidak hanya disisi pengangguran tetapi juga perekonomian rakyat.
Bank Pembawa Petaka
Advertisement
Filed under Uncategorized
